|
Tidak bedanya di perusahaan besar atau kecil, dalam Knowledge
Management (KM) yang bertumpu pada budaya knowledge-sharing (saling
berbagi knowledge), hambatan terbentuknya budaya ini harus
dihilangkan terlebih dahulu. Salah satu hambatan yang sering ditemui
adalah lemahnya peranserta dan kepedulian seluruh karyawan akan hari
esok perusahaan. Waltraut Ritter, President of Hong Kong Knowledge
Management Society ketika sempat bertandang ke tempat kerja saya
beberapa waktu lalu mengatakan bahwa budaya paternalistik di Asia
membuat karyawan terbiasa untuk selalu meminta petunjuk atasan untuk
melakukan suatu pekerjaan. Kebiasaan ini menyebabkan karyawan rikuh
untuk berkreasi. Rikuh terhadap atasan karena takut salah atau
dianggap sok tau. Dan kepada sesama rekan kerja karena takut
dianggap cari muka. Memang tidak ada cara yang baku untuk
membentuk suatu kekuatan kerja berdasarkan knowledge di suatu
perusahaan. Namun perusahaan perlu menciptakan iklim yang mendorong
agar setiap karyawan dapat berlatih dalam proses berpikir dan dan
meningkatkan kreativitasnya. Langkah taktis yang dapat dilakukan
perusahaan adalah melakukan sigi (survei) tentang persepsi seluruh
karyawan terhadap apa yang menjadi SWOT (Strength-kekuatan,
Weakness-kelemahan, Opportunity-peluang, Threat-ancaman) bagi
perusahaan. Seluruh hasil sigi kemudian dapat dijadikan bahan
diskusi kelompok berdasarkan persamaan atau perbedaan pandangan yang
berkembang. Diskusi inilah merupakan bahan pemicu awal
knowledge-sharing. Tindak lanjut dari diskusi adalah mempraktikkan
seluruh kesepakatan hasil diskusi yang kemudian dievaluasi dalam
kegiatan knowledge-sharing berikutnya. Seluruh aktivitas ini
selanjutnya dapat dijadikan kegiatan rutin perusahaan.
Komunitas praktisi
Setelah aktivitas knowledge-sharing telah bergulir, seluruh kegiatan
tersebut akan lebih mudah pelaksanaannya jika dibentuk apa yang
dinamakan komunitas praktisi (Community of Practice – CoP). CoP
merupakan forum yang mempertemukan semua fungsi dalam organisasi
untuk menggodok berbagai knowledge dengan tujuan memecahkan berbagai
masalah dan menghasilkan inovasi perusahaan. Sesuai dengan namanya,
CoP berorientasi pada pertukaran pengalaman praktek-praktek (best
practices) terbaik yang telah dilakukan oleh karyawan. Oleh karena
itu partisipasi aktif anggota sangat menentukan kualitas dari CoP.
CoP tidak merubah struktur organisasi, karena CoP bersifat
informal, namun keberadaannya diakui dan mendapat dukungan penuh
dari perusahaan. Agar anggota CoP bebas berdiskusi dan
mengekspresikan pendapat dan pengalamannya, semua peserta diminta
melepas semua atribut jabatan dan fungsi di organisasi. Seluruh
hasil CoP ditujukan untuk kepentingan salah satu fungsi atau seluruh
bagian dalam organisasi.
Tidak cukup dengan teori
Dalam KM memang kita tidak cukup hanya mengandalkan teori. Sebagian
besar teori dan kumpulan pengalaman mempraktikkan KM dari
negara-negara maju juga tidak dapat secara serta merta diterapkan
dalam organisasi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena banyaknya
perbedaan budaya, jenis usaha, kesiapan infrastruktur komunikasi dan
informasi suatu wilayah dan tingkat melek terhadap teknologi
informasi. Pola pikir dan tindakan yang diperlukan adalah, teori
sebagai pijakan awal, lalu disesuaikan dengan budaya setempat,
dipraktikkan dan kumpulan praktek terbaik akan dengan cepat akan
membentuk teori baru yang sesuai dengan kondisi di mana kita berada.
Iklim peranserta karyawan dan persaingan yang sehat dalam
perusahaan memang harus diciptakan oleh manajemen perusahaan, karena
iklim ini tidak terbentuk dengan sendirinya. Budaya paternalis
sangat kental dengan keteladanan pimpinan sebagai pelopor perubahan.
Kebijakan yang diambil oleh pimpinan perusahaan makin menuntut
knowledge yang makin beragam. Pada gilirannya pemimpin memerlukan
wisdom (kebijaksanaan) management yang didasarkan atas knowledge,
seperti yang saya sampaikan sebagai umpan balik kepada Waltraut
Ritter, dan ia pun mengiyakan.
Lendy Widayana adalah moderator pada mailing list Indonesia
Knowledge Management Community. Beliau juga aktivis bidang TI di
Komunitas Peduli Belajar (Tali Ajar) Malang. Saat ini bekerja
sebagai Direktur Eksekutif Ciputra Cyber Institute Surabaya. Tulisan
ini pernah dimuat di Harian Radar Malang pada tanggal 5 Mei 2004.
Demikian tulisan singkat mengenai menggalang peranserta dan
kepedulian dalam perusahaan. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya. Saran dan komentar bisa dilayangkan langsung ke
lendy@ciputracyberinstitute.com. Untuk membaca tulisan menarik lainnya silakan menuju ke situs Sony AK Knowledge Center di
www.sony-ak.com.
Terimakasih.
| Send
your comments or suggestions |
|
|
|