Pada tulisan terdahulu yang berjudul "Menggali
Potensi Knowledge dalam Perusahaan" penulis pernah menguraikan
pendapat Michael Zack (1999) tentang tiga pilar knowledge dalam
organisasi untuk menghasilkan daya saing, yaitu:
- Knowledge inti yang diperlukan sebuah bisnis (Core knowledge)
- Knowledge yang membuat keunggulan bersaing sehingga sekaligus
perusahaan dapat mampu berhadapan langsung dengan pesaingnya
(Advanced knowledge)
- Knowledge yang membuat perusahaan dapat merubah 'aturan main'
dunia bisnis yang digeluti dan membuat perusahaan menjadi pemimpin
di bidang bisnisnya (Innovative knowledge).
Knowledge (pengetahuan + pengalaman) adalah sesuatu yang
berkembang. Ia tidak statis. Ibarat sebuah pohon dapat menghasilkan
buah yang berkualitas jika tanahnya diolah dan diberi pupuk secara
teratur. Demikian pula dalam organisasi yang mengandalkan knowledge,
pelatihan dan pembelajaran yang berkesinambungan adalah nutrisi bagi
organisasi.
Seluruh kepala bagian/departemen menganalisa dan melakukan
pemetaan kembali potensi knowledge sumber daya manusia di
jajarannya. Knowledge yang perlu dianalisa adalah yang berhubungan
dengan:
- Pelaksanaan tugas pokoknya
- Persepsi karyawan terhadap pelanggan internal perusahaan
maupun eksternal (pasar).
Knowledge untuk tugas pokok adalah knowledge yang disyaratkan
untuk melaksanakan semua pekerjaan secara maksimal. Jika sebuah
pekerjaan memerlukan alat bantu teknologi informasi, maka penguasaan
semua aspek penggunaan teknologi juga merupakan ketrampilan dan
knowledge yang disyaratkan. Sedangkan persepsi karyawan terhadap
pelanggan adalah, bagaimana karyawan dalam setiap fungsi memahami
pentingnya pelanggan, dan bagaimana sikap serta kualitas kerja yang
diharapkan oleh pelanggan.
Ada tiga jenis pelatihan yang perlu terus dilakukan untuk
'penyegaran' dalam organisasi, yang masing-masing bertujuan:
- Membentuk persepsi yang utuh tentang sistem dan mekanisme
kerja yang harus dilakukan
- Mengenal dinamika perubahan pasar dan tuntutan pelanggan
- Melatih penggunaan teknologi informasi sebagai alat bantu
demi berjalannya sistem dan mekanisme kerja yang ada.
Tanpa ketiga jenis pelatihan tersebut, mengakibatkan karyawan
tidak akan memahami bagaimana seluruh rantai kerja dalam organisasi
berikut konsekuensi logis dan dinamikanya, lalu perusahaan menjadi
kurang berorientasi pada pelanggan dan investasi pada teknologi
informasi sudah pasti tidak akan bermanfaat secara maksimal.
Lendy Widayana adalah moderator pada mailing list Indonesia
Knowledge Management Community. Beliau juga aktivis bidang TI di
Komunitas Peduli Belajar (Tali Ajar) Malang. Saat ini bekerja
sebagai Direktur Eksekutif Ciputra Cyber Institute Surabaya.
Demikian tulisan singkat mengenai hubungan knowledge management
dengan kepuasan pelanggan. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya. Saran dan komentar bisa dilayangkan langsung ke
lendy@ciputracyberinstitute.com. Untuk membaca tulisan menarik lainnya silakan menuju ke situs Sony AK Knowledge Center di
www.sony-ak.com.
Terimakasih.
| Send
your comments or suggestions |
|
|
|