|
Masyarakat dunia memang terus berubah akibat otomasi, informasi dan
kesadaran akan lingkungan hidup, seperti yang ditulis Rolf Jensen,
direktur Copenhagen Institute of Futures Study (The Dream Society,
1999). Orang yang selalu dapat menciptakan produk imajinatif akan
semakin mempunyai nilai permintaan yang tinggi. Konsumen tidak akan
puas hanya sampai ia dapat memiliki secara materi sebuah produk.
Nilai suatu produk atau jasa akan semakin bergantung dari bungkus
cerita di balik produk itu yang membawa imajinasi,
ekspresi/identitas diri, gaya hidup dan emosi konsumen. Contohnya,
bagi orang yang membeli jaket jins merek tertentu. Jaket itu sendiri
hanya mempunyai nilai sekunder . Namun pilihan jatuh ke merek itu
karena merek tersebut telah berhasil dipersepsikan dengan cerita
sebagai simbol kebebasan, jiwa muda dan lain-lain. Suatu ketika
saya mengantar rombongan tamu Rotary Club dari Canada yang
berkunjung ke candi yang juga makam raja Kertanegara (1268-1292) di
Singosari, Malang. Di situ kebetulan pula ada rombongan anak-anak
sekolah bahasa asing yang sedang mempraktekkan pelajaran
conversation. Dengan kecakapan bahasa Inggris yang dimiliki, mereka
menerangkan tentang seluk beluk candi itu kepada rombongan tamu
kami. Terus terang saya menjadi kagum dan bangga akan potensi
anak-anak sekolah itu. Rombongan kami kemudian mengunjungi candi
Jago dari jaman raja Wishnuwardana kerajaan Singosari pada abad ke
13 yang berada di Tumpang, Malang. Di situ, keadaan menjadi lain,
mengapa? Karena kondisi situs sejarah itu sangat memprihatinkan.
Tidak terurus dan tidak ada pemandu. Demikian pula kalau kita
berkunjung ke berbagai daerah sering kita melihat berbagai situs
sejarah seperti candi atau museum dalam keadaan yang menyedihkan.
Kesenian dan budaya asli daerah juga hanya tinggal menunggu lonceng
kematian. Lebih miris lagi jika alasan yang kita dengar karena tidak
adanya dana untuk melestarikan berbagai aset penting bangsa kita.
Semua keprihatinan itu akhirnya hanya bisa kita tutup dengan kalimat
'sayang ya ...'. Lalu apa hubungan itu cerita ini semua dengan
Knowledge Management (KM)?
Penerapan KM memang tidak selalu dan bisa untuk manajemen
perusahaan pada umumnya. Namun di mana ada aktivitas yang
berhubungan dengan pengetahuan di situlah diperlukan KM, agar
knowledge (pengetahuan + pengalaman) dapat dikelola hingga mempunyai
manfaat dan nilai ekonomis. Seperti menurut Stephen Denning (The
Squirrel, 2001), di negara-negara lain yang sudah mengelola
knowledge menjadi suatu aset, metode storytelling (pengungkapan
knowledge dengan cara cerita) merupakan salah satu cara efektif
untuk mengubah tacit knowledge (knowledge yang ada dalam pikiran)
menjadi explicit knowledge (knowledge yang dapat dijabarkan secara
sistematis dan didokumentasikan). Sebuah obyek sejarah misalnya,
akan menjadi kehilangan makna jika tidak ada cerita yang lengkap
tentang obyek itu. Oleh karena itu seorang pemandu wisata adalah
knowledge worker, karena ia sangat mengandalkan knowledge yang
dimilikinya untuk menjadi nilai bagi dirinya sendiri dan obyek yang
ia terangkan dalam bentuk suatu cerita.
Pemerintah daerah atau biro pariwisata dapat mengajak perguruan
tinggi jurusan sejarah, arkeologi dan sekolah pariwisata untuk
bersama-sama membangun knowledge yang dapat bernilai tinggi di mata
wisatawan. Selain dalam bentuk buku atau dibuat situs web di
Internet, dokumentasi knowledge dapat dikemas dalam format
multimedia di VCD yang dapat menjadi cinderamata bagi wisatawan
mancanegara atau lokal.
Menengok sedikit ke negara lain. Di Volendam, Negeri Belanda
setiap turis yang datang ke situ akan merasa lebih lengkap
kunjungannya jika sudah dipotret menggunakan kostum tradisional
negara itu. Studio foto yang bertebaran di situ sudah menyiapkan
semuanya, kostum dengan berbagai ukuran mulai anak-anak sampai orang
dewasa. Lengkap juga dengan sepatu kayu khas negeri kincir angin
itu. Hal-hal seperti itu bisa dilakukan bukanlah karena soal modal
(uang). Tapi kreativitas untuk menjadikan apa yang tidak ada menjadi
ada. Indonesia punya kekayaan yang begitu berlimpah. Mau dan
mampukah kita mengelola titipan Ilahi ini dengan knowledge yang kita
miliki agar menjadi berguna untuk kesejahteraan seluruh bangsa kita?
Lendy Widayana adalah moderator pada mailing list Indonesia
Knowledge Management Community. Beliau juga aktivis bidang TI di
Komunitas Peduli Belajar (Tali Ajar) Malang. Saat ini bekerja
sebagai Direktur Eksekutif Ciputra Cyber Institute Surabaya. Tulisan
ini pernah dimuat di Harian Radar Malang pada tanggal 27 April 2004.
Demikian tulisan singkat mengenai hubungan knowledge management
dengan dunia pariwisata. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya. Saran dan komentar bisa dilayangkan langsung ke
lendy@ciputracyberinstitute.com. Untuk membaca tulisan menarik lainnya silakan menuju ke situs Sony AK Knowledge Center di
www.sony-ak.com.
Terimakasih.
| Send
your comments or suggestions |
|
|
|