|
Ada sementara pendapat yang menyatakan bahwa Knowledge Management
(KM) hanya cocok dan diperlukan untuk perusahaan besar. Perusahaan
yang padat modal. Perusahaan teknologi tinggi yang serba
komputerisasi, dan lain-lain. Pendapat ini sama sekali tidak benar.
Di negara-negara yang telah maju sekalipun, KM ada di berbagai
ukuran perusahaan. Karena KM memang bukan tergantung dari besat
kecilnya perusahaan. Namun dimulai dari hal-hal kecil yang jika
diteliti lebih lanjut banyak membutuhkan knowledge
(pengetahuan+pengalaman)yang perlu selalu dikembangkan. Adalah
Shari Franey seorang CEO dari Performance Personnel di Ephrata
Pennsylvania-AS yang mengatakan 'Jika seorang penjual tidak tahu apa
yang telah dilakukan oleh penjual lainnya, kita kehilangan semua
knowledge'. Ia berpendapat bahwa KM adalah proses yang digunakan
untuk memastikan bahwa jika seseorang tahu kan suatu hal maka semua
orang juga perlu tahu tentang hal itu. Sebuah proses pemerataan
knowledge yang menegaskan bahwa kepentingan perusahaan adalah di
atas kepentingan orang per orang. Contoh ini adalah aplikasi
sederhana KM yang menjelaskan sekali lagi bagaimana perlunya proses
knowledge-sharing dalam organisasi.
Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana secara praktis kita dapat
memulai langkah untuk menerapkan KM di organisasi?
Pertama. Untuk merespon setiap perubahan, bagaimana perusahaan
dapat mengetahui tingkat kecerdasaan perusahaan (corporate
intelligence)? Bagaimana kecerdasan perusahaan dapat
meningkatkan laba, mind share, kecepatan dalam inovasi, dan time to
market yang pendek? Untuk itu perlu dilakukan pengumpulan data
tingkat knowledge yang dimiliki oleh organisasi untuk mencari
jawaban setiap orang tentang: "Tahu apa yang ia ketahui", "Tahu apa
yang ia tidak ketahui", "Tidak tahu apa yang ia ketahui" dan "Tidak
tahu apa yang ia tidak ketahui". Kelompok pertanyaan ini jika
dijabarkan akan menjadi sederetan pertanyaan seperti:
- Apakah anda mengetahui bahwa anda mempunyai potensi
knowledge yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh
organisasi?
- Apakah anda mengetahui bahwa rekan kerja (internal maupun
external departemen) anda mempunyai potensi pengetahuan dan
keahlian yang belum dimanfaatkan secara maksimal oleh
organisasi?
- Apa kendala dari pertanyaan a dan b?
- Berapa banyak yang anda ketahui bahwa semua orang dalam
organisasi tahu bahwa sesuatu harus dilakukan tetapi tidak/belum
dilakukan?
- Berapa lama kondisi itu telah berlangsung?
- Apakah ada pengaruhnya secara langsung terhadap layanan
kepada pelanggan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menerus
secara berkala diajukan sampai dengan organisasi dapat memetakan
semua potensi knowledge yang masih tersembunyi dalam organisasi.
Kedua. Penulis menyebutnya sebagai aktivitas sharing vision
(menjelaskan visi dan misi) dalam bentuk yang mudah
dioperasionalisasikan oleh seluruh level dalam organisasi. Untuk
menuju perusahaan yang bertumpu pada knowledge, sharing vision
mempunyai penekanan membangun dan mengasah kemampuan analisa setiap
pesertanya. Oleh karena itu, data dan informasi kondisi perusahaan
yang termutakhir sangat berperan untuk keperluan analisa dan
keputusan tindakan selanjutnya.
Ketiga, memberi muatan knowledge setiap fungsi kerja dalam
organisasi dengan melihat alur Input-Process-Output (I-P-O).
Misalnya, seorang tenaga penjual menerima target penjualan lengkap
dengan product knowledge dll-nya. Ini adalah knowledge dasar yang
mutlak diperlukan dalam tahap Input alur kerja si penjual. Dalam
tahap Process, ia memerlukan bekal knowledge tentang berbagai
strategi yang dapat digunakan. Dari berbagai alternatif strategi
yang pada tahap proses, pada tahap Output diperlukan knowledge yang
langsung siap dipraktekkan dalam melakukan aktivitas penjualan.
Seluruh knowledge yang selalu dikembangkan di setiap tahap I-P-O
tersebut diharapkan hasilnya akan membuat orang bekerja dengan cara
yang makin cerdas. Yang akan lebih dahsyat lagi dampaknya, jika
semua knowledge yang disyaratkan dalam tiap tahap I-P-O dilengkapi
dengan ketrampilan untuk menggunakan teknologi informasi sebagai
alat bantu.
Pengalaman penulis, bila dilakukan secara konsisten, ketiga
langkah awal di atas membuat organisasi akan lebih mempunyai
kelenturan terhadap perubahan yang disebabkan oleh tuntutan pasar.
Pula dalam waktu yang lebih singkat dapat diluncurkan produk baru
yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
Sayapun percaya bahwa banyak mutiara tersembunyi dalam organisasi
perusahaan Anda, pembaca. Adalah tantangan kita bersama untuk
menyelam mencari butir-butir mutiara tadi, untuk kita rangkai
menjadi untaian mutiara kecerdasan yang mengalungi organisasi.
Lendy Widayana adalah moderator pada mailing list Indonesia
Knowledge Management Community. Beliau juga aktivis bidang TI di
Komunitas Peduli Belajar (Tali Ajar) Malang. Saat ini bekerja
sebagai Direktur Eksekutif Ciputra Cyber Institute Surabaya. Tulisan
ini pernah dimuat di harian Radar Malang tanggal 23 Maret 2004.
Demikian tulisan singkat mengenai mempraktekkan knowledge
management. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya. Saran dan komentar bisa dilayangkan langsung ke
lendy@ciputracyberinstitute.com. Untuk membaca tulisan menarik lainnya silakan menuju ke situs Sony AK Knowledge Center di
www.sony-ak.com.
Terimakasih.
| Send
your comments or suggestions |
|
|
|