|
Pada tulisan bagian pertama yang berjudul "Teknologi
Hardisk - Bagian 1", Anda sudah disuguhi sekilas mengenai
hardisk dan apa saja yang ada di dalamnya. Pada tulisan bagian kedua
ini, Anda akan mengetahui lebih banyak lagi mengenai teknologi
hardisk seperti track, sector dan lain sebagainya. Selamat
menikmati. Track dan Sector
Setiap platter dibagi-bagi menjadi beberapa track (jumlahnya ribuan)
yang membentuk melingkar. Satu track terlalu banyak menampung
informasi untuk dikatakan sebagai bagian terkecil dari unit
penyimpanan, sehingga setiap track dibagi-bagi lagi menjadi sector.
Sektor merupakan unit terkecil yang bisa diakses melalui alamat
tertentu yang tersimpan pada hard disk, dan biasanya bisa menyimpan
512 bytes informasi. Hard disk PC pertama memiliki 417 sector per
track. Saat ini bisa memiliki ribuan sector pada tiap tracknya.

Areal Density
Areal density, kadang disebut juga dengan bit density, mengacu pada
jumlah data yang bisa disimpan pada sejumlah platter. Karena
permukaan platter merupakan bidang dua dimensi, areal density
berarti satuan dari jumlah bit yang bisa disimpan pada satu tempat.
Satuannya yang dipakai adalah bits per square inch (BPSI).
Karena merupakan satuan dua dimensi, areal density dihasilkan
dari perkalian dua satuan lainnya yang satu dimensi:
- Track Density: Merupakan satuan yang menyatakan sebagaimana
rapatkah track-track pada disk terkumpul atau seberapa banyak
track pada setiap inchi platter. Satuannya track per inch (TPI).
- Linear atau Recording Density: menyatakan seberapa banyak
bit yang bisa ditampung pada setiap satu inchi track. Satuannya
bits per inch per track (BPI).
Dengan mengalikan kedua nilai tersebut dihasilkanlah nilai areal
density yang satuannya bits per square inch (BPSI). Jika jumlah
maksimum linear density misalnya 300000 BPI dan track density
kira-kira 18.333 TPI, maka areal density maksimum kurang lebih
sekitar 5500000000 BPSI atau 5.5 Gbits/in2. Hard disk masa kini
memiliki areal density lebih dari 10 Gbits/in2, dan di lab IBM pada
tahun 1999 bisa mencapai 35.3 Gbits/in2 dengan 524000 BPI linear
density dan 67300 TPI track density. Bandingkan dengan hard disk
pertama yang memiliki sekitar 0.004 Gbits/in2!
Head
Bagian yang paling mengagumkan dari hard disk adalah head yang
digunakan untuk membaca dan menulis data pada platter. Head yang
digunakan pada hard disk-hard disk saat ini posisinya melayang di
atas permukaan platter dan melakukan tugasnya (membaca dan menulis)
tanpa sedikitpun bersentuhan secara fisik dengan permukaan platter.
Head melakukan proses magnetisasi. Jarak antara head dengan platter
disebut dengan floating height atau flying height. Kadang disebut
juga dengan head gap. Head terbuat dari pegas baja yang bisa menekan
platter ketika platter tersebut dalam keadaan berhenti. Ketika
platter berputar, putaran tersebut menyebabkan udara mangalir di
bawah head dan menyebabkannya terangkat dari permukaan platter
sehingga bisa dikatakan “melayang”.
Karena jarak yang begitu dekat antara head dan permukaan platter
(sekitar sepersejuta inchi), hard disk diproduksi pada ruangan yang
bebas dari udara luar. Tetapi bukan berarti hampa udara, karena
bagaimanapun juga udara diperlukan untuk proses pengangkatan head
dari permukaan platter ketika platter tersebut berputar.
Sungguh mengagumkan bahwa dengan jarak yang sangat dekat, antara
head dan platter tidak bersentuhan sama sekali! Sebagai
perbandingan, jarak antara head dan platter pada hard disk modern
adalah 0.5 mikroinchi (?inchi), sedangkan rambut manusia sekitar
2000 mikroinci.

Beberapa Standarisasi Pada Hard Disk
Jika sekarang kita melihat-lihat informasi teknis (spesifikasi) hard
disk di toko-toko komputer, kita akan dibingungkan dengan berbagai
istilah seperti ATA-2, ATA 3, IDE, EIDE, ATAPI dan sebagainya. Namun
perlu diketahui bahwa istilah-istilah tersebut ada yang merupakan
standar yang resmi dan ada juga yang tidak resmi. Yang resmi disini
maksudnya yang disetujui oleh ANSI (American National Standards
Indstitute) yang merupakan suatu organisasi yang mengembangkan
standarisasi di dunia. Contohnya: ATA-1, ATA-2, ATAPI. Sedangkan
IDE, EIDE, Fast-ATA, merupakan istilah unofficial yang dipakai oleh
produsen hard disk tertentu.
ATA (Advanced Technology Attachment) merupakan suatu standar yang
digunakan untuk menentukan suatu antarmuka (interface) yang
dirancang berdasarkan bus ISA 16-bit yang juga digunakan pada PC.
Spesifikasi ATA berhubungan dengan daya dan antarmuka sinyal data
antara motherboard dengan controller disk drive. ATA hanya mendukung
dua perangkat saja (sering disebut dengan master dan slave).
Awalnya disebut IDE (Integrated Drive Electronics), ATA ditemukan
oleh Compaq sekitar tahun 1986, dan dikembangkan bersama-sama oleh
Western Digital, Imprimis, dan Conner Peripheral. Usaha untuk
men-standarkan interface ini dimulai pada tahun 1988. Draft pertama
muncul pada bulan Maret 1989, dan setelah selesai diserahkan ke ANSI
group X3T10 (yang memberi nama ATA) untuk disahkan pada bulan
November 1990. X3T10 kemudian mengembangkan ATA menjadi Advanced
Technology Attachment Interface with Extensions (ATA-2), yang
kemudian diikuti dengan ATA-3 dan seterusnya.

Keterangan:
- PIO Modes. Merupakan suatu metode pengiriman data melalui
antarmuka IDE/ATA yang menggunakan programmed I/O (PIO). Teknik
ini melakukan proses pengiriman data dengan cara sistem CPU dan
hardware yang bersangkutan secara langsung mengendalikan
transfer data antara memori sistem dan hard disk. Ada beberapa
kecepatan yang berbeda pada PIO yang disebut dengan PIO Modes.
Berikut tabel perbandingannya:

- DMA Modes. Pada PIO, ketika proses pengiriman data sedang
berlangsung, CPU terus mengawasi proses tersebut sampai selesai.
Hal ini tentu saja akan menghambat kinerja sistem secara
keseluruhan karena CPU adalah pusat dari pemrosesan pada suatu
komputer dan tidak melakukan tugas itu saja. Oleh karena itu,
solusinya adalah dengan membebaskan kerja CPU dalam proses
pengiriman data antara hard disk dan sistem, sehingga hard disk
dan memori sistem dapat langsung berkomunikasi ketika terjadi
proses pengiriman data. Teknik ini disebut dengan Direct Memory
Addressing (DMA). Seperti halnya PIO, ada beberapa mode dalam
DMA yang disebut dengan DMA Modes. Berikut tabel
perbandingannya:

- Ultra DMA. Kunci pada teknologi ini adalah double transition
clocking. Sebelum Ultra DMA, satu transfer terjadi pada satu
siklus clock. Sedangkan pada Ultra DMA pada satu siklus clock
terjadi dua kali lipatnya. Berikut tabel perbandingannya:

- LBA (Logical Block Addressing). Merupakan pola pengalamatan
sector pada hard disk yang digunakan pada semua hard disk SCSI
dan IDE (untuk ATA-2 dan sesudahnya). Sebelum diperkenalkannya
LBA, BIOS hanya membolehkan hard disk yang memiliki kapasitas
maksimum 504 MB (1024 cylinder, 63 sector per track, 16 head,
dan 512 byte per sector). Hal tersebut tidak terjadi pada BIOS
modern, tapi tetap masih ada keterbatasannya yaitu maksimum 8 GB
(1024 cylinder, 63 sector per track, 256 head, dan 512 byte per
sector). Untungnya sistem operasi modern (termasuk Windows 9x,
Windows NT dan Linux) tidak memperdulikan konfigurasi BIOS lagi
untuk hal tersebut, karena mereka menggunakan direct LBA-based
call.
Response Time
Definisi umum dari response time adalah:
“Waktu yang diperlukan oleh sistem untuk menanggapi suatu
permintaan dan melakukan tugas sesuai dengan permintaan tersebut.”
(Sumber: Operating System, William Stallings: hal
378)
Saya tidak menemukan istilah response time yang berkaitan dengan
hard disk. Tetapi ada istilah lain yang mirip, yaitu access time.
Definisinya sebagai berikut:
“Access time merupakan waktu yang diperlukan oleh suatu
perangkat (dalam hal ini hard disk) untuk menerima suatu permintaan
baca atau tulis pada suatu lokasi dan melaporkan bahwa proses baca
dan tulis selesai.”
(Sumber: Jargonary™ v1.0)
Pada istilah response time dan access time, terdapat persamaan
sifat, yaitu semakin kecil nilai suatu response time atau access
time, maka semakin baik. Berarti bisa dikatakan bahwa nilai access
time pada hard disk menentukan kecepatannya.
Nilai access time suatu hard disk didapat dari perkalian antara
nilai seek time dan rotational latency. Definisinya sebagai berikut:
“Seek time merupakan waktu yang diperlukan oleh actuator untuk
memindahkan head ke track tertentu pada platter ketika mengakses
data.“
(Sumber: Google, keyword: define: access time)
“Rotational latency (atau rotational delay) merupakan waktu
yang diperlukan oleh suatu sector pada platter untuk berputar menuju
head.“
(Sumber: Webopedia.com)
Sebagai perbandingan, access time suatu hard disk adalah 18 ms
(miliseconds) atau lebih kecil, sedangkan RAM sekitar 80 ns
(nanoseconds) atau lebih kecil.
Selain access time, seek time, dan rotational latency, ada juga
RPM (Revolution Per Minute) yang merupakan satuan dari banyaknya
putaran suatu platter dalam satu detik. Saat ini di pasaran satuan
RPM lebih populer sebagai penentu kecepatan hard disk, nilainya
antara lain: 5400, 7200, 10000 dan 15000. Untuk hard disk dengan
7200 RPM berarti platter-nya berputar sebanyak 7200 kali dalam satu
menit atau 120 putaran dalam satu detik! Berikut tabel lengkapnya:

Pada tabel tersebut diketahui bahwa ternyata RPM juga merupakan
kecepatan putar dari spindle.
Referensi
- http://www.seagate.com
- http://www.acmehowto.com
- dan dari berbagai sumber lainnya.
Demikian tulisan mengenai teknologi hardisk bagian yang kedua. Semoga
bermanfaat bagi Anda semuanya. Jika ada saran atau komentar bisa
dilayangkan ke
arioss@softhome.net. Untuk membaca tulisan menarik lainnya
silakan menuju ke situs Sony AK Knowledge Center dengan alamat di
www.sony-ak.com.
Terima kasih.
| Send
your comments or suggestions |
|
|
|